Guna menyelamatkan bahasa Bugis, Makassar, Toraja, Mandar, dan bahasa serumpun dari kepunahan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Bahasa Makassar akan menggelar Kongres Bahasa-bahasa Daerah Sulsel 22-25 Juli 2007. Kongres yang baru pertama kali diselenggarakan tersebut bakal menghadirkan peneliti bahasa dari mancanegara serta komunitas penutur bahasa terkait di perantauan.
Demikian dikemukakan Asisten Sekretaris Provinsi Sulsel Amiruddin Maula selaku wakil ketua umum penyelenggara kongres tersebut di Makassar, Selasa (29/5). Hadir ketua panitia pengarah Zainuddin Taha, yang juga guru besar linguistik Universitas Negeri Makassar, serta wakil ketua penyelenggara Zainuddin Hakim (Kepala Balai Bahasa Makassar).
Saat ini, sudah 12 peneliti bahasa dari luar negeri menyatakan siap tampil. Di antaranya H Steinhouer dan E Ulrich Kratz (keduanya dari Belanda), Nordhofer (Jerman), Alexander Adelaar (Australia), Masao Yamaguchi (Jepang), Cai Jincheng-Gunawan (China), Kamsiah Abdullah (Singapura), dan Abdul Latiff (Malaysia).
“Ditargetkan ada 50 makalah yang dibahas. Kami juga mengundang komunitas penutur bahasa Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar di perantauan untuk berpartisipasi,” kata Amiruddin.
Kepala Pusat Bahasa Depdiknas Dendy Sugono mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkaya khazanah kebudayaan nasional. “Bagaimanapun, bahasa-bahasa daerah ikut memberi andil dalam pengembangan bahasa Indonesia,” ujar Dendy, yang dalam jumpa pers tersebut secara khusus berbicara melalui telepon.
Guna memperluas cakupan kongres, panitia memberi kesempatan guru bahasa daerah untuk ikut serta secara gratis. Bahkan, terkait dengan muatan lokal pembelajaran bahasa daerah di sekolah, para guru dipersilakan menyampaikan makalah.
Sementara dari Palangkaraya dilaporkan, Balai Bahasa Kalimantan Tengah saat ini tengah mengusulkan sejumlah kosakata bahasa Dayak masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terbaru nanti.
Sejauh ini, KBBI hanya mencatat lima kosakata Dayak. Lima kosakata tersebut adalah bakas lewu, betang, kahan, kayau, dan tiwah. “Kami mengusulkan lagi sekitar 500 kosakata Dayak ke dalam KBBI,” kata Puji Santoso, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah. (CAS/NAR)